POLA PENYELESAIAN PERKAWINAN NYEBURIN BERBEDA WANGSA DI WILAYAH PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TABANAN

DIPUTRA, IDA BAGUS NYOMAN DHARMA DEWA (2003) POLA PENYELESAIAN PERKAWINAN NYEBURIN BERBEDA WANGSA DI WILAYAH PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TABANAN. Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3911Kb

Abstract

Nyeburin marriage; is the marriage when a man (husband) reckons himself into his wife's family, is typical marriage that held in the special ceremony in Bali. Nyeburin marriage possibly occurs among the diferent wangsa (dynasty) that often causes contradiction of its legality. One of the cases is, the marriage between Ida Ayu Putu Stiti and I Ketut Bakti in Wonosari, the Tabanan Regency. Their marriage is the only Nyeburin berbeda wangsa (nyeburin among different dinasty) marriage that the case was solved at the Bali Court. The Tabanan State Court Decree No. 8 Pdt.P/1985/PN.TBN dated on 9 July 1985. The judge consideration is neither law nor custom and religion bans this kind of marriage. Thus, if nyeburin berbeda wangsa ceremony, has conducted based on custom and Hindu religion especially after Mabyakala ceremony, the marriage is legal. Perkawinan Nyeburin yaitu si pria (suami) masuk kedalam lingkungan kerabat si istri merupakan bentuk perkawinan yang khas di Bali sehingga pelaksanaannya juga memerlukan upacara khusus. Dalam perkawinan nyeburin ini dapat saja terjadi diantara mereka yang wangsanya berbeda sehingga tidak jarang menimbulkan pertentangan pendapat terhadap sah/tidaknya perkawinan tersebut. Salah satu kasusnya adalah perkawinan antara Ida Ayu Putu Stiti dengan Ketut Bakti di Desa Wanasari Kabupaten Tabanan, yang merupakan satu-satunya kasus perkawinan Nyeburin Berbeda Wangsa di Bali yang penyelesaiannya sampai pada tingkat pengadilan. Oleh Pengadilan Neger Tabanan, perkawinan semacam itu dinyatakan sah. Penetapan ini tertuang dalam Putusan Pengadilan Negeri Tabanan No. 8/Pdt.P/1985/PN.TBN tanggal 9 Juli 985. Dasar pertimbangan Hakim, bahwa balk peraturan perundang-undangan, adat maupun agama tidak ada yang melarang perkawinan semacam itu. Dengan demikian, apabila upacara perkawinan nyeburin berbeda wangsa telah dilaksanakan sesuai adat (agama) Hindu terutama setelah dilaksanakan Upacara mabyakala, maka perkawinan tersebut adalah sah.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:K Law > K Law (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Notary
ID Code:10913
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:19 May 2010 11:10
Last Modified:27 May 2010 10:12

Repository Staff Only: item control page