PENGUJIAN ANOMALI WINNER - LOSER DI BURSA EFEK JAKARTA

YULIANAWATI, ENNY (2003) PENGUJIAN ANOMALI WINNER - LOSER DI BURSA EFEK JAKARTA. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
2110Kb

Abstract

The stock market is said to be efficient if the security prices have reflected all the relevant and available information. In recent years, however, more attention is focused on the over-reacted market in responding either good news or bad news current information. This over-reacted phenomenon is a manifestation of inefficient market. Some new studies towards stock prices behavior have found some anomalies on the stock market. One of the anomalies against the market efficiency is the winner-loser anomaly. Debondt and Thaler ( 1985 ) stated that the cause of winner-loser anomaly is the over-reacted market, where the market tends to determine over valued stock as a reaction towards "good news", on the contrary, they will determine under valued stock as a reaction for "bad news". The phenomenon turns back when the market realizes that they have over-reacted. This reversal is shown by stocks which at first gave the positive return ( winner ) or negative ( loser ) will experience the reversal in the next periods. It means that investors who bought the loser-stocks and selling that stocks when they were the winner would obtain abnormal return. This article is to examine the existence of winner-loser anomaly in Jakarta Stock Exchange using market adjusted abnormal return. The data used are those of the monthly stock prices in the period of 1995-2000. The formation and test period used is three months overlapping. The result obtained does not find any winner-loser anomaly in Jakarta Stock Exchange. In the test period there is no symmetric reversal. Thus, the contrarian investment strategy can not be applied in Jakarta Stock Exchange. Secara informasional, pasar modal dikatakan efisien apabila harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang tersedia dan relevan. Namun demikian, tahun-tahun belakangan ini banyak perhatian ditujukan pada kecenderungan reaksi pasar yang berlebihan dalam merespon informasi bare yang baik (good news) maupun yang talc baik (bad news). Fenomena reaksi berlebihan ini merupakan suatu manifestasi dari ketidakefisienan pasar. Beberapa studi bare terhadap perilaku harga saham menemukan adanya anomali pada pasar modal. Salah satu anomali yang bertentangan dengan efisiensi pasar adalah anomali winner-loser. Debondt dan Thaler (1985) menyatakan bahwa penyebab anomali winner- loser ini adalah overreaksi pasar, dimana para pelaku pasar cenderung menetapkan harga saham terlalu tinggi sebagai reaksi terhadap berita yang dinilai "baik", sebaliknya mereka akan memberikan harga terlalu rendah sebagai reaksi terhadap kabar "buruk". Fenomena ini berbalik ketika pasar menyadari telah bereaksi berlebihan. Pembalikan ini ditunjukkan oleh saham-saham yang pada mulanya memberikan return positif (winner) atau negatif (loser) akan mengalami pembalikan pada periode-periode berikutnya, sehingga investor yang membeli saham-saham loser dan menjual saham-saham tersebut saat menjadi winner akan mempero leh abnormal return. Tulisan ini menguji adanya anomali winner-loser pada Bursa Efek Jakarta, dengan menggunakan market adjusted abnormal return, data yang digunakan adalah data harga saham bulanan selama periode 1995-2000, periode formasi dan uji yang dipakai adalah 3 bulan overlapping. Hasil yang diperoleh tidak ditemukan anomali winner-loser ini di Bursa Efek Jakarta. Pada periode pengujian tidak terlihat adanya pembalikan yang simetri dengan demikian strategi investasi contrarian tidak dapat diterapkan di Bursa Efek Jakarta.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28 Management. Industrial Management
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Management
ID Code:10669
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:14 May 2010 13:30
Last Modified:14 May 2010 13:30

Repository Staff Only: item control page