STUDI KUALITATIF TENTANG PERANAN FAKTOR KEBUDAYAAN DALAM PRAKTEK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) UNTUK BAYI USIA 0-4 BULAN (STUDI DI DESA JATIMULYO KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN PROPINSI JAWA TENGAH TAHUN 2004)

WARYANI, KUAT TRI (2004) STUDI KUALITATIF TENTANG PERANAN FAKTOR KEBUDAYAAN DALAM PRAKTEK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) UNTUK BAYI USIA 0-4 BULAN (STUDI DI DESA JATIMULYO KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN PROPINSI JAWA TENGAH TAHUN 2004). Undergraduate thesis, Diponegoro University.

[img]
Preview
PDF - Published Version
24Kb

Official URL: http://www.fkm.undip.ac.id

Abstract

Air Susu Ibu sebaiknya diberikan kepada bayi sampai bayi usia 4 bulan. Pada usia kurang dari 3 bulan organ pencernaan bayi baik anatomis dan fisiologisnya belum sempurna serta pada usia tersebut bayi dalam masa pertumbuhan dan perkembangan otak yang kritis. Ibu bayi di Desa Jatimulyo Kecamatan Kebumen Propinsi Jawa Tengah sudah melakukan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada usia 0-4 bulan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan adakah peranan faktor budaya dalam praktek pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) untuk bayi usia 0-4 bulan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subyek penelitian berjumlah 8 orang yang dipilih dengan cara Snow-Ball Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam dan sebagai crosschek menggunakan observasi. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Preferensi makanan ibu bayi dari beras yaitu jenis Rajalele, lauk yaitu daging ayam dan daging sapi, sayuran adalah kangkung, bayam, kol, wortel, kacang panjang, oyong, buncis, sawi, terong, daun mlinjo serta makanan lain seperti daun katuk, daun pepaya dan daun ketela, buah yaitu jeruk dan minuman kesukaan ibu bayi adalah teh manis dan kopi; 2) Preferensi makanan untuk bayi yaitu a. Makanan pokok bayi sama dengan makanan tambahan untuk bayi yaitu pisang uleg, pisang kerok, nasi yang dikunyah oleh ibunya, nasi tim, nasi uleg, pepaya kerok dan biskuit; 3) Tabu/pantangan: a. Tidak ada makanan pantangan untuk bayi, b. Ada makanan pantangan untuk ibu bayi seperti makanan pedas, makanan yang berbau amis seperti daging dan telur dan makanan yang mengandung minyak goreng; 4) Konsumsi makanan, a. Untuk ibu bayi yaitu untuk jenis Cisadane, C4, waisi putih, Lauk yaitu tempe dan tahu, sayuran yaitu daun pepaya, daun ketela, daun katuk, kangkung, bayam, kol, wortel, kacang panjang, buncis, oyong, sawi, terong, daun mlinjo, genjer, kecambah,b. ASI diberikan untuk yang pertama kali keluar, pemberian ASI diberikan sampai usia 2 tahun, semua subyek memberikan MP-ASI pada usia 0,2,3,dan 5 hari setelah bayi lahir. Macam MP-ASI yang diberikan adalah pisang uleg, pisang kerok, nasi yang dikunyah oleh ibunya, nasi tim, nasi uleg, pepaya kerok dan biskuit; 5) Peranan budaya ditunjukkan pada konsumsi lauk dan konsumsi sayuran ibu menyusui. Konsumsi lauk sesuai dengan tabu/pantangan ibu menyusui. Konsumsi sayuran sesuai dengan tabu/pantangan makanan ibu menyusui dan makanan sehari-hari untuk ibu menyusui yaitu sayur harus direbus. Makanan pokok untuk bayi sama dengan makanan sehari-hari bayi yaitu pisang uleg, pisang kerok, nasi yang dikunyah oleh ibunya, nasi tim, nasi uleg, pepaya kerok dan biskuit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ideologi pangan merupakan faktor budaya yang menentukan apa yang sebaiknya dikonsumsi warga masyarakat. Ideologi pangan tradisional masyarakat Desa Jatimulyo masih menjadi pedoman para ibu dalam memberikan ASI dan MP-ASI kepada bayi mereka. Ideologi pangan seperti ini tidak memebedakan antara pemberian ASI Ekslusif dan pemberian MP-ASI. Hal tersebut tentu membahayakan bayi karena dapat membahayakan status dan kesehatan bayi. Dalam ketiadaan ilmu pengetahuan maka budaya tradisionallah yang menjadi pedoman bagi perilaku. Saran disampaikan: bagi puskesmas yaitu bekerjasama dengan posyandu mengadakan penyuluhan secara rutin untuk ibu-ibu baik yang memepunyai bayi maupun yang tidak mempunyai bayi. Penyuluhan dilakukan dengan metoda dua arah yang dilakukan dua minggu sekali tentang pemberian ASi Ekslusif dan pemberian MP-ASI yang benar. Kata Kunci: Bayi, ASI Ekslusif, MP-ASI, Kebudayaan, Kualitatif QUALITATIVE STUDY OF THE ROLE OF CULTURAL FACTORS IN THE PRACTICE OF GIVING FOOD AS BREASTFEED SUPPLEMENT (MP-ASI) TO INFANTS AGED 0-4 MONTHS (STUDY AT JATIMULYO VILLAGE PETANAHAN SUBDISTRICT KEBUMEN DISTRICT CENTER JAVA PROVINCY 2004) Breastfeeding should still be given to infant until they are 4 months old. At on age less than 3 months old, the infants' digestive organs, both anatomically and physiologicallly, are not matured yet. The brain is also undergoing a crucial period of growth and development during that age. Infants' mother at Jatimulyo village Petanahan subdistrict kebumen district Central Java provincy have already given food as accompainying food breastfeeed supplement (MP-ASI) to their 0-4 months old infants. The goal this research is to describe the role of cultural factors in the practice of giving food as breasfeed supplement (MP-ASI) to infants aged 0-4 months. This research is qualitative research. The subject were 8 persons, selected through the snow-ball samping method. Data collecting was done through indepth interview and was crosschecked through observation. The result of this research revealed that: 1) The food preferencess of the infants' mothers were rice is Rajalele type, side dishes were chicken and beef, vegetables were kangkung, spinach, cabbage, carrot, long nourishing beans, squaslike vegetable, mustard, brinjal mlinjo leaves, and other like katuk leaves, papaya leaves, cassava leaves, fruit were orange and the drink preferencess of the infants' mother were sweet tea and coffe; 2) The food preferencess for infants were a) Infants primary meals; Breastfeed (ASI), delicated banana, rice chewed by infanfts' mothers, papaya, and biscuits; 3) Taboo/prohibitation a. There's no food prohibitation on taboo for infants. b. There was a taboo/food prohibitation for the infants' mothers such as spicy food meat, egg, food containing oil; in practice in breasfeeeding all subject have given their first breast milk to their infants, and breastfeeding was done until the infants were to years old. In practice of giving breasfeed supplement (MP-ASI); all subject have given breastfeed supplement (MP-ASI) to their infants 0, 2, 3, and 5 days after their birth. The breasfeed supplement (MP-ASI) given delicated banana, rice chewed by infanfts' mothers, papaya, and biscuits. The role of cultural factors could be seen on the food and vegetables consumed by the mothers. The conclusion of this research is: food idealism is cultural factor that determines what is best consumed in the society. Traditionall food idealism of the people at jatimulyo village is still being the primary guide for the infants' mothers. The kind of food idealism does not diferentiate between Ekslusive Breasfeeding and status and health of the infants. In the absence of sciene or knowledge, traditional culture becomes the guide attitude. Sugestions given; puskesmas (health centre) should give routine information to the mother who possess or not once in every 2 weeks, about the importance of giving Ekslusive breasrfeeding and the correct giving of accompanying food breasfeeed supplement (MP-ASI). Keyword: Infants,Ekslusive breastfeed, Breastfeed supplement (MP-ASI),Culture, Qualitave

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine
Divisions:Faculty of Public Health > Department of Public Health
ID Code:10359
Deposited By:admin FKM undip
Deposited On:07 May 2010 11:25
Last Modified:07 May 2010 11:25

Repository Staff Only: item control page