HUBUNGAN EPISODE INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DENGAN PERTUMBUHAN BAYI UMUR 3 SAMPAI 6 BULAN DI KECAMATAN SURUH KABUPATEN SEMARANG

Wati, Erna Kusuma (2005) HUBUNGAN EPISODE INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DENGAN PERTUMBUHAN BAYI UMUR 3 SAMPAI 6 BULAN DI KECAMATAN SURUH KABUPATEN SEMARANG. Masters thesis, Program Studi Ilmu Gizi.

Full text not available from this repository.

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan manusia yang paling kritis terjadi pada masa bayi dibandingkan dengan tahapan umur berikutnya (Handinsyah,1992). Pertumbuhan adalah peningkatan secara bertahap dari tubuh, organ dan jaringan dari masa konsepsi sampai remaja. Kecepatan dari pertumbuhan manusia berbeda setiap tahapan kehidupan karena dipengaruhi oleh kompleksitas dan ukuran dari organ serta rasio otot dengan lemak tubuh (Supariasa 2001:27, Jelliffe 1989). Pertumbuhan bayi yang tercermin pada status gizi dapat dipantau melalui grafik pertumbuhan berdasarkan standar tertentu misalnya WHO-NCHS. Apabila terjadi perubahan grafik pertumbuhan, baik dalam pertumbuhan massa tubuh maupun pertumbuhan linier, yang keduanya menjurus ke arah penurunan grafik bila dibandingkan dengan standar, maka dikatakan bayi mengalami goncangan pertumbuhan (growth faltering) (Satoto, 1990 : 10). Goncangan pertumbuhan berkaitan dengan kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan, berat badan bayi lahir rendah, banyaknya bayi yang sudah diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI) sejak usia 1 bulan, bahkan sebelum usia 1 bulan (Jahari et al 2000 : 111), tingkat kecukupan gizi yang kurang terutama energi dan protein, pola asuh atau perawatan bayi yang kurang optimal serta penyakit infeksi (Prawirohartono 1997, Satoto 1990 : 309, DEPKES RI 2001). Penyakit infeksi yang berkaitan dengan terjadinya goncangan pertumbuhan dan tingginya angka kematian bayi adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare (James 1990 : 72). Adanya interaksi yang sinergis kekurangan gizi dengan infeksi dan juga infeksi akan mempengaruhi status gizi serta mempercepat terjadinya kekurangan gizi. Dari Survei Konsumsi Rumah Tangga SKRT tahun 2001, diketahui bahwa 27,6% kematian bayi kurang dari satu tahun di Indonesia disebabkan oleh ISPA. (LIPI 2004 : 157). Tingginya angka penyakit ISPA pada bayi berkaitan dengan sanitasi lingkungan, pelayanan kesehatan yang tidak memadai dan disertai cakupan imunisasi yang masih rendah (LIPI 2004 : 157). Berdasarkan data SP2TP bulan Februari 2004 di Puskesmas Suruh, prevalensi penyakit ISPA 42 % menduduki peringkat pertama dari sepuluh besar penyakit pada anak balita. Prevalensi gizi kurang pada bayi adalah 6,7 % dan pemberian ASI eksklusif sampai usia 4 bulan masih rendah (9,4%). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan episode ISPA dengan pertumbuhan bayi umur 3 sampai 6 bulan di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang. Manfaat penelitian ini diharapkan bagi pengambil kebijakan program gizi dalam upaya meningkatkan gizi bayi dan pencegahan terjadinya penyakit ISPA, bagi ilmu pengetahuan, diperolehnya bukti empiris mengenai kejadian penyakit ISPA terhadap pertumbuhan bayi. Penelitian ini termasuk penelitian observasi longitudinal perlakuan apapun tidak dilaksanakan selama penelitian. (Sastroasmoro, 2002: 139). Sampel diambil dari populasi bayi yang berumur 3 di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang, dengan menggunakan metode pengambilan secara purposive quota (Sugiono,1999). Bayi yang memenuhi kriteria inklusi yaitu kondisi sehat, status gizi baik, tidak sakit berat atau memiliki kelainan bawaan dengan usia 3 bulan. Dengan perhitungan besar sampel didasarkan pada rumus untuk penelitian longitudinal diperoleh sampel sebanyak 120 bayi usia 3 bulan. Untuk menguji hubungan antar variabel dengan mempertimbangkan sebaran data penelitian berdistribusi normal dan tidak normal. Maka untuk menganalisis korelasi antar dua variabel, digunakan uji korelasi Pearson (untuk data berdistribusi normal) dan Sperman’s rho. (untuk data berdistribusi tidak normal) dan menganalisis hubungan antara pertumbuhan, episode ISPA dengan menyertakan variabel perancu (confounding) digunakan analisis regresi berganda variabel dummy. Hasil penelitian dan pembahasan adalah sebagai berikut. Jumlah sampel sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 128 bayi umur 3 bulan. Selama penelitian berlangsung, ada 8 sampel yang keluar (drop out) jadi jumlah sampel penelitian sebanyak 120 yang mengikuti sampai akhir penelitian. Rata-rata pendidikan ibu adalah tingkat SLTP (8 tahun) dari kisaran lama pendidikan 0 sampai 17 tahun. Kemakmuran keluarga diukur berdasarkan pengeluaran listrik per kapita per bulan diperoleh rata-rata Rp. 6.600,00 dengan kisaran Rp. 1.300.00 sampai Rp. 18.800,00 per kapita per bulan. Sanitasi lingkungan merupakan data komposit. Pada dasarnya sebagian besar (54,2 %) sanitasi lingkungan masih kurang baik. Sebagian besar pencahayaan adalah ≥ 60 lux, ventilasi udara baik berupa jendela yang dapat dibuka dan ditutup. Bahan lantai terluas sebagian besar menggunakan semen atau plester. Jenis dinding rumah sebagian besar menggunakan papan kayu atau sebagian tembok. Sebagian kecil dari dapur yang mempunyai lubang untuk pengeluaran asap. Berdasarkan data yang ada, diketahui hampir separoh (49,2 %) termasuk termasuk padat yaitu rata-rata setiap orang menempati 7,4 m2. Kondisi kebersihan lingkungan rumah baik di dalam maupun di luar rumah, masih tergolong kurang bersih. Distribusi jenis kelamin bayi antara laki-laki dan perempuan seimbang. Sebesar 34,2 % keluarga terutama bayi telah memanfaatkan pelayanan kesehatan berdasarkan kelengkapan imunisasi dasar sesuai umur dan kondisi kesehatan bayi sampai usia 6 bulan (akhir penelitian). Ibu berperan sebagai pengasuh utama bayi dengan rata-rata pola asuhan bayi berdasarkan alokasi waktu ibu bersama bayi baik dalam hal menyusui atau memberi makan, mengasuh dan merawat bermain serta tidur bersama bayinya adalah 16 jam dalam sehari. Sedangkan dalam penelitian Thaha (1995), rata-rata waktu ibu yang dialokasikan untuk merawat anak dikatakan cukup besar yaitu sekitar 17 jam sehari. Tingkat konsumsi untuk energi dan protein merupakan nilai komposit dari rerata hasil dari recall selama satu hari diulang dua kali setiap bulan dibandingkan dengan AKG 2004. Asupan energi bayi (450 kkal/hari) masih berada dibawah angka kecukupan yang dianjurkan sedangkan asupan protein bayi (11,0 gram/hari) berada di atas angka kecukupan protein. Bila dilihat dari rerata tingkat kecukupan gizi, rata-rata tingkat kecukupan energi termasuk kurang (82 %) sedangkan tingkat kecukupan protein termasuk kategori lebih (110 %). Penyakit ISPA dinilai berdasarkan frekuensi kejadian penyakit ISPA selama tiga bulan penelitian dengan melakukan pengukuran setiap dua minggu sekali. Penyakit ISPA ditentukan berdasarkan gejala panas, batuk dan pilek. Rata-rata lamanya bayi menderita penyakit ISPA adalah 4 sampai 5 hari. Kejadian sakit ISPA lebih sering terjadi pada bayi berumur enam bulan. Dapat dikatakan dengan semakin bertambah umur bayi kejadian ISPA semakin sering mengalami sakit dibandingkan pada bayi berusia muda. Pengukuran berat badan mulai bayi berumur tiga bulan sampai enam bulan dan penilaian status gizi berdasarkan Z-skor dari BB/U. Selama tiga bulan pengamatan terjadi peningkatan berat badan rata-rata sebesar 1,310 kg atau 436 gram per bulan. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa status gizi bayi laki-laki cenderung lebih baik daripada bayi perempuan. Pada penelitian ini ditemukan status gizi bayi pada usia tiga bulan semuanya baik dan terjadi cenderung penurunan status gizi hingga umur enam bulan, meskipun masih pada kisaran status gizi baik (> - 2 SD sampai + 2 SD). Pertumbuhan dalam penelitian didasarkan pada perhitungan laju pertumbuhan bayi selama tiga bulan pengamatan, diperoleh hasil laju pertumbuhan bayi 3 - 6 bulan sebesar – 0,034 standar deviasi (SD) Pertumbuhan bayi umur 3-6 bulan terjadi kecenderungan nilai negatip dari Z-skor (status gizi) yang semakin menurun dengan semakin meningkatnya umur bayi. Sebelum menganalisa data, dilakukan uji normalitas. Ada tiga variabel yang tidak normal yaitu jenis kelamin, pemanfaatan pelayanan kesehatan dan episode ISPA. Untuk uji statistik lebih lanjut data yang tidak normal dianggap sebagai data kategori. Untuk menguji hubungan variabel bebas dengan pertumbuhan, maka dilakukan uji hubungan antara episode ISPA dengan variabel bebas dan antara pertumbuhan dengan variabel bebas. Berdasarkan hasil uji korelasi diketahui, variabel yang berhubungan dengan episode ISPA yaitu tingkat kecukupan energi dan protein, pola asuh bayi, sanitasi lingkungan, pemanfaatan pelayanan kesehatan. Variabel yang berhubungan dengan pertumbuhan bayi 3 sampai 6 bulan adalah episode ISPA, sanitasi lingkungan, pemanfaatan pelayanan kesehatan. Untuk melihat hubungan episode ISPA terhadap pertumbuhan bayi 3 sampai 6 bulan dengan mengendalikan variabel perancu secara bersama-sama, maka dilakukan analisis regresi berganda variabel dummy. Diperoleh hasil bahwa secara bersama-sama variabel bebas (tingkat kecukupan energi dan protein, pola asuhan bayi, jenis kelamin, sanitasi lingkungan, pemanfaatan pelayanan kesehatan, pendidikan ibu, kemakmuran keluarga serta episode ISPA) mempunyai hubungan dengan pertumbuhan bayi 3 -6 bulan (p value 0,005), dimana variabel variabel bebas tersebut mengkontribusi sebesar 12,4 % terhadap pertumbuhan bayi 3 – 6 bulan. Dari hasil regresi dummy diketahui bayi 3-6 bulan yang sering ISPA, mempunyai laju pertumbuhan sebesar 0,155 SD dan bayi yang tidak sering ISPA laju pertumbuhannya sebesar 0,485 SD. Dapat dikatakan selisih laju pertumbuhan antara bayi yang sering ISPA dan tidak sering ISPA sebesar 0,330 SD. Penyakit infeksi dan gangguan gizi sering terjadi secara bersamaan dan saling mempengaruhi. Interaksi yang sinergis antara penyakit infeksi dan gangguan pertumbuhan dapat mengakibatkan mekanisme patoligik yang bermacam-macam baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan (Indrawati 1990, Supariasa, 2001 : 187, Brown 2003). Goncangan pertumbuhan pada bayi dimulai ketika bayi berumur 2-3 bulan mulai terjadi pada enam bulan pertama kehidupan bayi, terutama pada bayi yang tidak mendapatkan ASI dan telah mulai diberikan makanan pendamping ASI yang kemungkinan dapat menimbulkan risiko kekurangan asupan zat gizi, frekuensi makan yang tidak sering, kontaminasi bahan makanan, pola asuh atau perawatan bayi yang kurang optimal, anak mulai kehilangan rasa aman dari ibu serta penyakit infeksi (Waterlow 1979, WHO 1986, Jahari et al, 2000) Pada penelitian diterdapat beberapa kelemahan antara lain asupan ASI dalam satu hari menggunakan asumsi hasil penelitian Kusin (1994), Kejadian ISPA hanya di ukur berdasarkan episode ISPA tidak mengukur severitas dan insiden ISPA. Kemakmuran keluarga hanya digunakan proksi pengeluaran listrik per kapita per bulan. Dalam penanggulangan penyakit ISPA dan terjadinya gangguan pertumbuhan, keluarga khususnya ibu hendaknya selalu memantau pertumbuhan bayi, meningkatkan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan memberikan makanan tambahan tepat pada waktunya, segera melakukan tindakan pengobatan pada saat bayi sakit serta menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Public Nutrition
ID Code:10152
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:06 May 2010 08:38
Last Modified:06 May 2010 08:38

Repository Staff Only: item control page